Showing posts with label industri ritel. Show all posts
Showing posts with label industri ritel. Show all posts

Wednesday, 15 November 2017

Pergeseran Konsumsi & Tantangan Baru Bagi Kita


Source: hercampus.com
Tahun 2016, saat saya resign dr salah satu retail fashion yg cukup besar di Indonesia, saya masih tidak percaya dg the power of e-commerce. Tp saat itu, banyak sekali perusahaan yg menawarkan pekerjaan sbg digital marketing kpd saya. Seems like everything goes digital. So I took the challenge, started from a very small and niche e-commerce. Then what happen next really blows my mind.
1 hal yg membuat saya suka dg pekerjaan baru saya, e-commerce & marketing manager, adl segala sesuatu yg terukur. Kesuksesan campaign bs dilihat dr report digital ads yg saya jalankan dg detail yg membuat saya berpikir, kok bisa ya manusia membuat alogaritma seperti ini. Tingkat kunjungan dan sales convertion bisa dilihat secara nyata, berapa banya yg dtg ke toko online kita & membeli, dan brp banyak keuntungan yg didapatkan dr investasi kita. Semua dlm 1 layar. Di perusahaan tsb, saya masih memiliki offline store, dan tahun 2017 adl salah satu masa yg sulit krna pelan-pelan org meninggalkan pembelian di toko offline, aplg area toko saya dekat dg pusat kemacetan kantor, kemacetan karena pembangunan, dan kemacetan krna demo2an. Dg kondisi seperti ini, online shopping adl solusi dr berbagai masalah hidup shopaholic yg males ribet. Namun, wlpn dibilang tahun ini adl tahun yg penuh perjuangan, growth penjualan masih positif, wlpn tidak setinggi ekspetasi di awal tahun 2017. And guess what, growth of my online store is way higher than what we expected. Disini saya mulai percaya dg pergeseran perilaku konsumsi masayarakat Indonesia, khususnya Jakarta, dr offline ke online shopping. Tapi dlm lubuk hati saya yg terdalam, saya masih denial dg the power of e-commerce.
Panel Discussion with Matt Idema, COO of Whatsapp
Sepanjang pertengahan tahun, saya mengalami banyak hal menyenangkan; bertemu orang2 dr berbagai digital industry dan bertukar pikiran dg mereka, mulai dr org2 dr FB, Instagram, Whatsapp, Digital Agency, maupun local business owner yg menjalankan usaha online. I feel the positive vibe. In the other side, karena banyak HRD perusahaan lain yg menjadwalkan saya utk interview dg para petinggi perusahaannya, saya sering berdiskusi dg mereka mengenai Indonesian market. They think we're such a promising market, not only in south east asia, but also one of the most promising market in the world. Sampai disini, sesungguhnya saya amaze dg Singapore, negara kecil dg magnet besar. Investor2 Eropa & Amerika, suka sekali membuka kantor perwakilannya disini sbg based expansi mereka di Asia Tenggara. Sehingga banyak kantor2 MNC di Indonesia, memberikan reportnya kepada kantor perwakilan di Singapore. Selain kantor perwakilan, mereka jg lebih suka membuka flagship store di Singapore daripada di Indonesia. Tanpa mereka sadari potensi di Indonesia sangaaat besar.
Berbicara mengenai lemahnya ekonomi dan pergeserah pola konsumsi masyarakat dunia, bukan hanya Amerika yg merasakan dampaknya. Singapore adl salah satu negara yg merasakan hal tsb, dimana tingkat kunjungan pusat perbelanjaan mengalami penurunan. Survey kecil saya terhadap mall di Indonesia menemukan, tingkat kunjungan suatu pusat perbelanjaan tidak semua menurun. Ada yg sepi, tp ada jg yg sll ramai. Dr survey kecil yg saya lakukan setiap weekend, beberapa mall memang mengalami penurunan pengunjung, tapi mall lain justru overload, bisa kita lihat di Kota Kasablanka. Betapa Kokas sudah bertransformasi mjd "pasar" setiap weekend. Antrian di kasir beberapa toko, bikin frustasi pengunjung (baca: saya). Dan saya yakin tingkat kunjungan mall di daerah juga meningkat, mengingat emak saya, seorang ibu-ibu daerah, sekarang maunya main ke mall di kala weekend. So I think, the potential is there.
Kembali dg experience saya bertemu dg petinggi perusahaan saat saya interview, bbrp diantaranya org asing & kantornya di Singapore, saya mendapatkan informasi bahwa pasar Singapore sedang lesu sehingga mereka ingin ekspansi ke Indonesia (dalam hal ini Jakarta). Di sisi lain, saat saya bertemu dg pengusaha lokal, mayoritas mereka berpendapat bahwa pasar ecommerce sangat seksi, banyak sekali pemain yg ingin masuk kesini. Apapun produk yg dijual laku berat (dalam hal ini fashion & beauty) sehingga optimisme local brand & para business owner sangat tinggi. This is my point of interest, masa keemasan brand lokal. Pernah saya hadir ke suatu event Beauty Fair yg diikuti oleh local & international brand, and that was the time when I saw a long queueing in local brand booth while no queue at all at the international ones. I see hope. Wlpn International Beauty Brand belum menganggap local brand sbg threat, setidaknya pasar menerima dg baik local brand ini, dan surprisingly saat saya bertemu dg berbagai pihak e-commerce, mereka mengatakan bahwa fashion & beuaty item (baik lokal maupun internasional) merupakan item dg penjualan tertinggi dibanding kategori lain seperti gadget maupun elektronik. The hope is there! Pasar utk industri ini akan smkn berkembang & besar.
Terkait fashion, industri yg sangat saya cintai, saya punya opini sendiri dan sampai saat ini masih mencari pihak yg memiliki visi yg sama utk bekerjasama. Menurut saya potensi industri fashion di Indonesia masih sangat terbuka. Let alone the premium market, that's my expertise but I prefer handling the medium one. Pangsa pasar kelas menengah sangat besar, baik menengah ke bawah maupun menengah ke atas. Untuk menengah ke bawah bisa kita lihat bagaimana Sale Stock, Shopee, dan berbagai marketplace tumbuh besar di Indonesia. Peningkatan penjual di marketplace diikuti peningkatan pembeli juga. Sementara untuk pasar menengah ke atas treatmentnya berbeda. Banyak masyarakat urban di Indonesia yg haus akan barang branded sbg pernyataan kelas mereka, tp memiliki sensitifitas thdp harga brg. Disinilah peran kartu kredit, dan lembaga cicilan tanpa kratu kredit diperlukan. Tapi bagi mereka yg tinggal di daerah, karena belum banyak opsi brand yg masuk, maka edukasi brand kepada masyarakat memerlukan lbh banyak usaha. Disinilah pengusaha wajib menghadirkan offline store, sehingga belief masyarakat daerah terhadap brand lebih kuat. Dengan begitu brand activation di daerah luar Jakarta jg harus ditingkatkan untuk memperkuat engagement brand dg customer. Sementara utk Jakarta, ttp harus dimaintain dg Flagship Store & event2 besar minimal 1x dlm setahun serta meningkatkan aktivitas di dunia digital.
E-Commerce dianggap mengubah perilaku konsumen, dan digunakan sbg salah satu alasan kenapa terjadi penurunan aktivitas penjualan di berbagai ritel. Tanpa kita sadari ternyata pergeseran pola konsumsi dr masyarakat bukan berasal dr adanya e-commerce, yg pada kenyataannya walaupun memiliki tingkat pertumbuhan yg tinggi, tapi hanya berpengaruh sedikit terhadap keseluruhan pasar ritel. Jadi kemana masyarakat berbelanja? Apakah ekonomi benar-benar lesu? Pada pidato Presiden Jokowi dan artikel yg dirilis CNN Indonesia baru-baru ini, masyarakat sudah tidak lagi membeli barang saja, tapi juga experience. Sehingga saat industri ritel & FMCG lesu, industri F&B, wisata, dan perhotelan melaju kencang. Bahkan presiden Jokowi mengatakan bahwa beberapa tahun ke depan industri wisata bisa dijadikan tulang punggung negara, menggantikan sektor migas atau perkebunan. Kita pun bisa melihat, saat long weekend bagaimana situasi jalanan menuju touristry spot, bagaimana ekplorasi wisata di daerah2 yg akhirnya memunculkan destinasi wisata baru, dan bagaimana menjamurnya start up seperti traveloka, airbnb, reddoorz, maupun opentrip2 yg masih dalam skala kecil, bagaimana perkembangan LCC airlines smkn bnyk, dan geliat2 lainnya dr industri wisata.
Source: Agus Susilo
Ekonomi kreatif merupakan masa depan yg harus direncanakan dg matang oleh banyak pihak di Indonesia. Bahkan pasar game sedikit demi sedikit mulai bertransformasi menjadi bagian dr gaya hidup dg pelaku industri yg memiliki modal besar. Jika kita tidak ingin tertinggal dg tren pasar ini, maka kita juga harus merubah perilaku kerja kita. Tantangannya adl menghadirkan produk kita di berbagai stage dalam kehidupan seseorang, baik produk sebatas material yg dibutuhkan utk bertahan hidup, maupun produk sbg bagian dr gaya hidup. Begitupun pola aktivitas pemasaran dan penjualan, bagaimana cara kita mendekatkan dengan generasi yg haus akan experiential tapi tetap mengelola kehadiran kita di berbagai pelosok negeri. Jangan hanya jadikan pulau Jawa sbg pasar utama, potensi pulau lainnya pun tak kalah besar, tinggal apakah kita mau berinvestasi banyak atau tidak untuk memasuki pasar tersebut. Jgn sampai potensi2 itu diisi oleh rival kita terlebih dl. Kelebihan perusahaan yg tidak disetir oleh pricipal adl kebebasan dlm memutuskan hal-hal strategis, jd saya yakin, akan butuh waktu lbh lama bagi perusahaan2 fashion/beauty dr eropa & amerika utk memasuki pasar daerah, inilah saatnya brand lokal utk kuat di negeri sendiri.
Mungkin sampai sekarang saya belum sepenuhnya percaya dg the power of e-commerce (saya lebih percaya kolaborasi online & offline) tapi saya percaya dg the power of social media, bagaimana FB-IG-Whatsapp sangat merubah perilaku kita. Saat ini potensi tsb sudah ditangkap oleh salah satu perusahaan digital besar di dunia, dan semoga kita tidak tertinggal dlm pengembangan pasar di masa selanjutnya. Mudah2an pd generasi kita, dengan besarnya sumber daya alam & meningkatnya kualitas SDM di Indonesia, inovasi2 baru akan semakin banyak bermunculan sehingga bisa memperkuat negara kita tidak hanya sbg negara dg konsumen terbesar di dunia, tp juga negara dg inovator & product owner terbesar di dunia.

Sunday, 19 February 2017

Mengenal Industri Ritel

Bagi kamu yang baru lulus kuliah, mungkin belum punya ide untuk bekerja di industri apa. Seringnya, industri yang paling populer adalah industri perbankan, oil & gas dan FMCG. Sementara itu, industri ritel mungkin belum terlalu dikenal oleh masyarakat luas. Tapi tanpa kita sadari aktivitas kita sehari-hari sangat dekat dengan dunia ritel. Mulai dari ritel f&b yang menyediakan kopi atau donut, minimarket tempat kita membeli snack atau sabun, supermarket tempat dimana kita belanja bulanan sampai department store dimana kita biasa membeli baju.Ritel-ritel modern yang saat ini tumbuh di tanah air, tentunya memerlukan banyak sekali karyawan. Namun sebelum membahas lebih jauh mengenai pekerjaan di dunia ritel, saya ingin memberi gambaran mengenai kategori bisnis ritel di tanah air.Secara teori, ritel modern terbagi dalam beberapa kategori; minimarket, supermarket dan hypermarket. Disini saya tidak akan menglasifikasikan ritel berdasarkan besarnya usaha, namun berdasarkan barang yang mereka jual.

1. Convenient Store


Ritel jenis ini adalah ritel yang paling dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Convenient Store saat ini mengalami perkembangan yang cukup tinggi, baik milik pengusaha lokal seperti Alfamart , Indomaret dan Family Mart maupun gerai internasional seperti Circle K dan 711. Ritel jenis ini menjual kebutuhan rumah tangga dan juga kebutuhan sehari-hari.

2. Swalayan


Swalayan juga menjual kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan sehari-hari namun dengan jenis yang lebih banyak dan lebih lengkap. Walaupun pertumbuhannya tidak setinggi convenient store, tapi seiring bertambahnya pemukiman baru dan mall baru maka kebutuhan karyawan bisnis ini juga meningkat. Seringnya customer datang ke tempat-tempat seperti Hero, Kemchick, Foodhall, Grand Lucky, Farmers Market maupun Ranch Market untuk groceries.

3. Hypermarket


Selain menjual barang kebutuhan sehari-hari, hypermarket juga menjual peralatan elektronik, furnitur bahkan kebutuhan fashion. Kategori ritel jenis ini tentunya membutuhkan lebih banyak karyawan dari berbagai disiplin ilmu untuk bekerja di tempat mereka. Pertumbuhan hypermarket ini juga cukup tinggi bahkan jangkauannya tidak hanya ibukota provinsi tapi juga beberapa kota yang lebih kecil. 

4. Specialty Store


Dengan area toko yang tidak kalah luas dengan swalayan maupun hypermarket, varian barang yang ditawarkan oleh Specialty Store sangat berbeda. Ritel jenis ini fokus menyediakan produk khusus seperti Gramedia dan Kinokuniya yang menjual buku dan berbagai alat tulis, Ace Hardware dan Informa yang menjual berbagai macam peralatan besar dan furnitur, Watson dan Guardian yang menjual obat-obatan serta Electronic City maupun Electronic Solution yang menjual berbagai macam peralatan elektronik. Pertumbuhannya yang juga tidak kalah pesat dibanding hypermarket, membuat bisnis ini layak dilirik untuk mencari pekerjaan.

5. F&B Retail


Ritel ini menawarkan berbagai macam makanan dan minuman. Namun, berbeda dengan bisnis franchise, pemilik ritel ini adalah 1 perusahaan yang membawahi banyak cabang. Berbagai food and beverage retailer dapat kita jumpai dengan mudah di pusat perbelanjaan. Untuk bekerja di bisnis ini, jangan lupa untuk mencari tahu nama perusahaan pemilik bisnis tersebut. Biasanya perusahaan tersebut memiliki lebih dari 1 lini bisnis, seperti Johny Andrean yang memiliki J.Co dan Breadtalk, MAP yang memiliki Starbucks dan Krispy Kreme serta CT Corp yang memiliki Wendy's dan Baskin Robin.

6. Departement Store


Department Store juga sangat dekat dengan keseharian kita. Seringnya untuk mendapatkan berbagai pilihan fashion item, kita akan mengunjungi department store yang memiliki banyak sekali varian. Karena banyaknya varian tersebut, akhirnya ritel ini memiliki beberapa departemen seperti womenswear, menswear, kidswear serta bed & bath. Berdasarkan banyaknya cabang yang dimiliki, Ramayana dan Robinson masih memimpin dalam bisnis ini, disusul oleh Matahari yang saat ini dimiliki oleh Lippo Group. Mitra Adi Perkasa memiliki beberapa dept store seperti Sogo, Debenhams, Seibu dan Galleries Lafayete. Sementara dept store asing lainnya juga sudah ikut meramaikan bisnis ini seperti Parkson, Central, Lotte dan AEON. Ada juga Metro Dept Store yang saat ini dimiliki oleh Trans Retail, serta Centro yang bergabung dengan Parkson. Dilihat dari banyaknya ritel jenis ini di Indonesia, lapangan kerja dari sektor ini cukup menjanjikan.

7. Fashion Retail


Berbicara mengenai fashion retail akan memerlukan penjelasan yang cukup panjang, karena bisnis ini memiliki cakupan yang luas. Tidak hanya terbatas pada local brand maupun international brand saja, namun ritel yang bergerak di bidang fesyen memiliki komoditas yang berbeda. Mulai dari baju, sepatu, tas dan aksesoris, semuanya memiliki segmen masing-masing. Dan hampir 70% area di pusat perbelanjaan didominasi oleh bisnis ini. Expertise saya adalah fashion retail, maka banyak post saya yang akan membahas mengenai bidang ini. Bisa dibilang, Mitra Adi Perkasa (MAP) memiliki portofolio paling banyak dalam industri fesyen. Brand yang dibawa oleh MAP adalah brand internasional yang cukup populer. Sementara itu ada juga Delami Brand, yang memiliki beberapa local brand seperti The Executive, yang cukup bersaing di pasar Indonesia. Pekerjaan dalam bidang ini juga cukup banyak dan akan saya bahas lebih lanjut di post selanjutnya.

Setelah mendapat sedikit gambaran tentang dunia ritel di Indonesia, apakah kamu berminat untuk mencoba masuk ke dalam industri ini? Yang jelas, dunia ritel adalah dunia yang cukup dinamis sehingga butuh orang yang sangat adaptable supaya mampu bersaing dari waktu ke waktu. Selain itu, kalau kamu mencari pekerjaan yang tidak harus mengenakan pakaian formal, industri ini sangat cocok untuk kamu. Tapi satu hal yang harus kamu ingat, karena lokasi toko dari masing-masing ritel berada di pusat perbelanjaan dan semakin ramai di hari libur, bagi kamu yang bekerja di bagian operasional akan sulit untuk mendapatkan libur di akhir pekan dan hari libur nasional. Karena di saat itulah kamu dituntut untuk mengejar penjualan mengingat traffic di area store kamu sedang tinggi-tingginya.