Saturday, 9 December 2017

#CareerCoach: Lulus Kuliah, Gimana Caranya Cari Kerja?


Mungkin bagi orang dengan tipe visioner seperti saya, mencari pekerjaan adalah hal yang sudah dipikirkan bahkan sebelum sidang skripsi. Tapi bagi sebagian mahasiswa, mereka baru memikirkan "mau ngelamar dimana ya?" setelah selesai ceremonial wisuda.

Sebagai orang yang sudah pernah melewati masa tersebut, dan sudah berganti posisi dari orang yang diinterview jadi orang yang menginterview, berikut beberapa tips dari saya bagi kalian yang baru lulus dan sedang mencari pekerjaan:

1. Cari Tahu Pekerjaan Apa yang Kalian Inginkan

Misal kamu anak accounting (seperti saya) coba cari tahu pekerjaan yang kamu idam-idamkan. Apakah menjadi akuntan di KAP-KAP besar seperti EY? Jadi auditor di perusahaan multinasional? Jadi staf keuangan di BUMN? Jadi pegawai bank? Apapun itu, kamu harus tahu apa yang kamu inginkan. Jangan asal ikut arus teman-teman.

2. Cari Tahu Perusahaan yang Kalian Inginkan

Biasanya kalau baru lulus kuliah, masing-masing orang pasti memiliki dream company list. Saat baru lulus kuliah, saya punya 3 kategori industri yang ingin saya masuki; Media, FMCG dan Cosmetics. Dari masing-masing kategori, saya sudah tahu perusahaan apa yang saya targetkan. Misalnya di media, saya ingin melamar ke MRA dan Trans TV. Untuk FMCG saya ingin melamar ke Unilever, Nestle, dan Coca Cola Amatil. Sementara untuk cosmetics, saya ingin melamar ke Loreal. Nah, kamu pun harus tahu, perusahaan apa sih yang kamu inginkan. Apakah kamu ingin berkerja di start up seperti Gojek, Traveloka, atau Tokopedia, atau kamu ingin bekerja di perusahaan yang lebih settle seperti Microsoft dan McKinsey? Pastikan kamu memiliki list yang sesuai dengan minat kamu.

3. Cari Lowongan di Berbagai Channel

Mulai dari situs-situs lowongan kerja seperti jobstreet dan qerja, melalui sosial media seperti linkedin, twitter maupun instagram (yes, banyak brand yang menggunakan instagram sebagai salah satu media komunikasi lowongan kerja), dari jobfair - mulai jobfair di kampus hingga jobfair di gedung pertemuan (tapi pastikan penyelenggara jobfair terpercaya, karena ini menentukan perusahaan yang menjadi partisipan) maupun dari referensi teman. Beberapa perusahaan juga aktif memposting lowongan kerja di career page mereka, so keep yourself updated with them.

4. Pahami Bahwa Ada Jenis Pekerjaan Baru

Di era digital ini, banyak sekali pekerjaan yang sebelumnya tidak pernah ada, jadi ada. Misal, traffic analyst di suatu ecommerce. Apakah materi pekerjaan tersebut kamu dapatkan dari kampus? Saya rasa tidak, sehingga kalau kamu ingin bekerja di dunia digital atau start up, pastikan kamu juga memperluas pengetahuan kamu dengan isu-isu terkini di bisnis tersebut, dan pastikan kamu benar-benar memahami apa inti dari pekerjaan ini. Persiapan tersebut akan sangat diperlukan saat kamu sampai tahap interview.

5. CV yang Menarik (dan Portofolio, jika ada)

Kalau kamu sudah tahu apa yang kamu mau, maka kamu harus mulai membuat CV yang menarik. Sebagai orang yang sering menginterview maupun diinterview, saya menyukai CV dalam 2 lembar. 1 okay, 3 gak masalah juga. Tapi kalau lebih dari 3 lembar, sudah males banget bacanya. Kalau bingung cara membuat CV, coba googling CV kreatif, atau coba lihat linkedin page orang yang lebih senior, sehingga kamu tau apa sih yang perlu dicantumkan disitu. Kalau kamu belum memiliki pengalaman kerja, setidaknya kamu cantumkan pengalaman organisasi. Tapi secara pribadi saya lebih senang dengan anak yang telah memiliki pengalaman kerja meskipun hanya sebagai intern, setidaknya dia sudah familiar dengan dunia kantor. Nah, kalau kamu masih kuliah, ada baiknya dari sekarang cari side job, volunteer job ataupun intership, karena hal tersebut akan menjadi nilai plus bagi kalian. Untuk beberapa posisi seperti grafik desainer dan jurnalis, pastikan kamu juga mencantumkan portofolio kamu sehingga HRD & User akan lebih tertarik dengan lamaranmu. Ada beberapa perusahaan yang crosscheck ke instagram kamu, terutama untuk posisi-posisi yang terkait dengan seni misal photo stylist atau videographer. Jadi ada baiknya kalau kamu juga update hasil karya kamu disana.

6. Email yang Sopan (Optional)

Tidak semua lamaran pekerjaan hanya cukup upload CV, ada kalanya kamu harus mengirim email langsung ke HRD atau user yang memerlukan CV kamu. Ini poin yang cukup penting, jangan mengirimkan email ala kadarnya. Kirimlah email yang terstruktur, dengan bahasa yang baik dan sopan. Ada kalanya saya menerima email tanpa teks, jadi cuma attachment CV, atau ada juga yang hemat banget dalam menulis email. Misal: dear Bu Mega, terlampir CV saya ya, terima kasih. Hellowww, ini email lamaran pekerjaan bukan teks whatsapp, jadi tolong perhatikan bahwa isi email kamu bersifat formal. Coba cari di google cover letter supaya kamu ada gambaran bagaimana menulis email untuk melamar kerja.

7. Persiapan Interview

Ketika pada akhirnya kamu dihubungi oleh perusahaan untuk interview, persiapkan diri kamu sebaik mungkin. Baca dulu job description yang kamu lamar, dan pahami betul poinnya sehingga saat ditanya mengenai lingkup pekerjaan kamu bisa memiliki level of understanding yang sama dengan orang yang mewawancara. Hal yang tidak kalah penting adalah mencari tahu tentang perusahaan yang kamu lamar. Buka websitenya terlebih dulu dan cari info terkait. Hal ini akan menjadi nilai plus bagi kamu.

8. Etika Interview

Saya sering bertemu dengan orang yang terlalu pasif, terlalu mendramatisir hidupnya, atau terlalu PD. Bagi saya, segala hal yang terlalu adalah hal yang kurang baik. Sehingga saat interview ada baiknya kamu tetap tenang, tunjukkan bahwa kamu adalah orang yang optimis, cerdas, rajin, memahami pekerjaan, ramah, pekerja keras dan bisa diandalkan. Jangan terlalu berapi-api tapi jangan juga terlalu pemalu. Jika kamu sudah 4 bulan menjalani interview 50 kali dan belum ada hasil, jangan tunjukkan kalau kamu terlalu bosan atau desperate dengan interview yang saat ini sedang kamu jalani. Untuk beberapa pekerjaan, pastikan kamu bisa berbahas inggris dengan baik, kalaupun kamu tidak bisa, dibisa-bisain aja dan jangan terlihat panik. Tidak perlu memikirkan grammar, biasanya interview dalam bahasa inggris merupakan salah satu uji mental.

9. Dress To Impress

Beberapa orang tidak mempedulikan penampilannya saat interview, karena mereka merasa pengetahuaan dan kemampuannya bisa membawa mereka mendapatkan pekerjaan ini. Bayangkan jika ada 4 orang pelamar dengan kualifikasi yang sama bagusnya dengan kamu. Semua aspek prestasi sama, lantas apa yang akan membedakan? Penampilan. HRD atau user akan lebih percaya orang dengan penampilan yang baik daripada berpenampilan biasa saja, jadi dress to impress adalah hal informal yang harus diperhatikan saat interview pekerjaan, terutama jika kamu melamar di bisnis fashion dan beauty. Perhatikan juga baju yang kamu pakai, jangan kenakan baju kasual untuk melamar ke bank atau financial institution maupun sebaliknya, mengenakan baju yang terlalu formal untuk melamar ke fashion retail. Karena ini akan mengurangi nilai kamu di mata interviewer.

10. Persiapan Psikotest

Masing-masing tes di perusahaan akan berbeda, ada interview dulu baru psikotes, ada psikotes dulu baru interview. Mayoritas, psikotes akan selalu ada untuk entry level position. Tenang, walaupun ada tes IQ, tapi psikotes seringnya dipake untuk melihat behaviour kamu. Apakah kamu extrovert atau introvert, sanguine atau melankolis, conceptor or doer, hal ini digunakan untuk menilai apakah sifat kamu sesuai dengan pekerjaan yang kamu lamar. Psikotes memang menjadi momok bagi para fresh graduate, tapi dengan sering melakukan latihan soal, kamu akan terbiasa. Jadi saran saya, kalau kamu merasa psikotes ini agak menyulitkan, kamu bisa mencoba latihan soal yang bisa kamu dapat di internet atau di toko buku. Tidur cukup dan sarapan sebelum menjalani psikotes juga cukup berpengaruh sehingga kamu akan lebih fokus dalam mengerjakan soal yang biasanya diberi durasi untuk mengerjakan per bagian. Tapi jika kamu berkali-kali gagal dalam psikotes, ada baiknya kamu lihat lagi apakah pekerjaan yang kamu lamar sesuai dengan sifat kamu? Misal kamu seorang introvert, yang tidak suka bersosialisasi, melamar pekerjaan Sales - General Trade atau kamu seorang sanguine, yang tidak suka pekerjaan terkait dengan detail, melamar sebagai akuntan, bisa saja dari hasil psikotes, HRD akan menilai bahwa sifat kamu tidak sesuai dengan pekerjaan yang kamu lamar. Jika memang seperti itu, kamu bisa mencoba melamar posisi lain, misal kamu seorang sanguine, sifat easy going kamu akan lebih cocok untuk mengisi posisi sebagai marketing.

Semoga beberapa tips ini bisa membantu kamu untuk mendapatkan pekerjaan yang kamu inginkan. Kalau ada pertanyaan boleh ditulis di kolom komentar. Goodluck!

Wednesday, 15 November 2017

Pergeseran Konsumsi & Tantangan Baru Bagi Kita


Source: hercampus.com
Tahun 2016, saat saya resign dr salah satu retail fashion yg cukup besar di Indonesia, saya masih tidak percaya dg the power of e-commerce. Tp saat itu, banyak sekali perusahaan yg menawarkan pekerjaan sbg digital marketing kpd saya. Seems like everything goes digital. So I took the challenge, started from a very small and niche e-commerce. Then what happen next really blows my mind.
1 hal yg membuat saya suka dg pekerjaan baru saya, e-commerce & marketing manager, adl segala sesuatu yg terukur. Kesuksesan campaign bs dilihat dr report digital ads yg saya jalankan dg detail yg membuat saya berpikir, kok bisa ya manusia membuat alogaritma seperti ini. Tingkat kunjungan dan sales convertion bisa dilihat secara nyata, berapa banya yg dtg ke toko online kita & membeli, dan brp banyak keuntungan yg didapatkan dr investasi kita. Semua dlm 1 layar. Di perusahaan tsb, saya masih memiliki offline store, dan tahun 2017 adl salah satu masa yg sulit krna pelan-pelan org meninggalkan pembelian di toko offline, aplg area toko saya dekat dg pusat kemacetan kantor, kemacetan karena pembangunan, dan kemacetan krna demo2an. Dg kondisi seperti ini, online shopping adl solusi dr berbagai masalah hidup shopaholic yg males ribet. Namun, wlpn dibilang tahun ini adl tahun yg penuh perjuangan, growth penjualan masih positif, wlpn tidak setinggi ekspetasi di awal tahun 2017. And guess what, growth of my online store is way higher than what we expected. Disini saya mulai percaya dg pergeseran perilaku konsumsi masayarakat Indonesia, khususnya Jakarta, dr offline ke online shopping. Tapi dlm lubuk hati saya yg terdalam, saya masih denial dg the power of e-commerce.
Panel Discussion with Matt Idema, COO of Whatsapp
Sepanjang pertengahan tahun, saya mengalami banyak hal menyenangkan; bertemu orang2 dr berbagai digital industry dan bertukar pikiran dg mereka, mulai dr org2 dr FB, Instagram, Whatsapp, Digital Agency, maupun local business owner yg menjalankan usaha online. I feel the positive vibe. In the other side, karena banyak HRD perusahaan lain yg menjadwalkan saya utk interview dg para petinggi perusahaannya, saya sering berdiskusi dg mereka mengenai Indonesian market. They think we're such a promising market, not only in south east asia, but also one of the most promising market in the world. Sampai disini, sesungguhnya saya amaze dg Singapore, negara kecil dg magnet besar. Investor2 Eropa & Amerika, suka sekali membuka kantor perwakilannya disini sbg based expansi mereka di Asia Tenggara. Sehingga banyak kantor2 MNC di Indonesia, memberikan reportnya kepada kantor perwakilan di Singapore. Selain kantor perwakilan, mereka jg lebih suka membuka flagship store di Singapore daripada di Indonesia. Tanpa mereka sadari potensi di Indonesia sangaaat besar.
Berbicara mengenai lemahnya ekonomi dan pergeserah pola konsumsi masyarakat dunia, bukan hanya Amerika yg merasakan dampaknya. Singapore adl salah satu negara yg merasakan hal tsb, dimana tingkat kunjungan pusat perbelanjaan mengalami penurunan. Survey kecil saya terhadap mall di Indonesia menemukan, tingkat kunjungan suatu pusat perbelanjaan tidak semua menurun. Ada yg sepi, tp ada jg yg sll ramai. Dr survey kecil yg saya lakukan setiap weekend, beberapa mall memang mengalami penurunan pengunjung, tapi mall lain justru overload, bisa kita lihat di Kota Kasablanka. Betapa Kokas sudah bertransformasi mjd "pasar" setiap weekend. Antrian di kasir beberapa toko, bikin frustasi pengunjung (baca: saya). Dan saya yakin tingkat kunjungan mall di daerah juga meningkat, mengingat emak saya, seorang ibu-ibu daerah, sekarang maunya main ke mall di kala weekend. So I think, the potential is there.
Kembali dg experience saya bertemu dg petinggi perusahaan saat saya interview, bbrp diantaranya org asing & kantornya di Singapore, saya mendapatkan informasi bahwa pasar Singapore sedang lesu sehingga mereka ingin ekspansi ke Indonesia (dalam hal ini Jakarta). Di sisi lain, saat saya bertemu dg pengusaha lokal, mayoritas mereka berpendapat bahwa pasar ecommerce sangat seksi, banyak sekali pemain yg ingin masuk kesini. Apapun produk yg dijual laku berat (dalam hal ini fashion & beauty) sehingga optimisme local brand & para business owner sangat tinggi. This is my point of interest, masa keemasan brand lokal. Pernah saya hadir ke suatu event Beauty Fair yg diikuti oleh local & international brand, and that was the time when I saw a long queueing in local brand booth while no queue at all at the international ones. I see hope. Wlpn International Beauty Brand belum menganggap local brand sbg threat, setidaknya pasar menerima dg baik local brand ini, dan surprisingly saat saya bertemu dg berbagai pihak e-commerce, mereka mengatakan bahwa fashion & beuaty item (baik lokal maupun internasional) merupakan item dg penjualan tertinggi dibanding kategori lain seperti gadget maupun elektronik. The hope is there! Pasar utk industri ini akan smkn berkembang & besar.
Terkait fashion, industri yg sangat saya cintai, saya punya opini sendiri dan sampai saat ini masih mencari pihak yg memiliki visi yg sama utk bekerjasama. Menurut saya potensi industri fashion di Indonesia masih sangat terbuka. Let alone the premium market, that's my expertise but I prefer handling the medium one. Pangsa pasar kelas menengah sangat besar, baik menengah ke bawah maupun menengah ke atas. Untuk menengah ke bawah bisa kita lihat bagaimana Sale Stock, Shopee, dan berbagai marketplace tumbuh besar di Indonesia. Peningkatan penjual di marketplace diikuti peningkatan pembeli juga. Sementara untuk pasar menengah ke atas treatmentnya berbeda. Banyak masyarakat urban di Indonesia yg haus akan barang branded sbg pernyataan kelas mereka, tp memiliki sensitifitas thdp harga brg. Disinilah peran kartu kredit, dan lembaga cicilan tanpa kratu kredit diperlukan. Tapi bagi mereka yg tinggal di daerah, karena belum banyak opsi brand yg masuk, maka edukasi brand kepada masyarakat memerlukan lbh banyak usaha. Disinilah pengusaha wajib menghadirkan offline store, sehingga belief masyarakat daerah terhadap brand lebih kuat. Dengan begitu brand activation di daerah luar Jakarta jg harus ditingkatkan untuk memperkuat engagement brand dg customer. Sementara utk Jakarta, ttp harus dimaintain dg Flagship Store & event2 besar minimal 1x dlm setahun serta meningkatkan aktivitas di dunia digital.
E-Commerce dianggap mengubah perilaku konsumen, dan digunakan sbg salah satu alasan kenapa terjadi penurunan aktivitas penjualan di berbagai ritel. Tanpa kita sadari ternyata pergeseran pola konsumsi dr masyarakat bukan berasal dr adanya e-commerce, yg pada kenyataannya walaupun memiliki tingkat pertumbuhan yg tinggi, tapi hanya berpengaruh sedikit terhadap keseluruhan pasar ritel. Jadi kemana masyarakat berbelanja? Apakah ekonomi benar-benar lesu? Pada pidato Presiden Jokowi dan artikel yg dirilis CNN Indonesia baru-baru ini, masyarakat sudah tidak lagi membeli barang saja, tapi juga experience. Sehingga saat industri ritel & FMCG lesu, industri F&B, wisata, dan perhotelan melaju kencang. Bahkan presiden Jokowi mengatakan bahwa beberapa tahun ke depan industri wisata bisa dijadikan tulang punggung negara, menggantikan sektor migas atau perkebunan. Kita pun bisa melihat, saat long weekend bagaimana situasi jalanan menuju touristry spot, bagaimana ekplorasi wisata di daerah2 yg akhirnya memunculkan destinasi wisata baru, dan bagaimana menjamurnya start up seperti traveloka, airbnb, reddoorz, maupun opentrip2 yg masih dalam skala kecil, bagaimana perkembangan LCC airlines smkn bnyk, dan geliat2 lainnya dr industri wisata.
Source: Agus Susilo
Ekonomi kreatif merupakan masa depan yg harus direncanakan dg matang oleh banyak pihak di Indonesia. Bahkan pasar game sedikit demi sedikit mulai bertransformasi menjadi bagian dr gaya hidup dg pelaku industri yg memiliki modal besar. Jika kita tidak ingin tertinggal dg tren pasar ini, maka kita juga harus merubah perilaku kerja kita. Tantangannya adl menghadirkan produk kita di berbagai stage dalam kehidupan seseorang, baik produk sebatas material yg dibutuhkan utk bertahan hidup, maupun produk sbg bagian dr gaya hidup. Begitupun pola aktivitas pemasaran dan penjualan, bagaimana cara kita mendekatkan dengan generasi yg haus akan experiential tapi tetap mengelola kehadiran kita di berbagai pelosok negeri. Jangan hanya jadikan pulau Jawa sbg pasar utama, potensi pulau lainnya pun tak kalah besar, tinggal apakah kita mau berinvestasi banyak atau tidak untuk memasuki pasar tersebut. Jgn sampai potensi2 itu diisi oleh rival kita terlebih dl. Kelebihan perusahaan yg tidak disetir oleh pricipal adl kebebasan dlm memutuskan hal-hal strategis, jd saya yakin, akan butuh waktu lbh lama bagi perusahaan2 fashion/beauty dr eropa & amerika utk memasuki pasar daerah, inilah saatnya brand lokal utk kuat di negeri sendiri.
Mungkin sampai sekarang saya belum sepenuhnya percaya dg the power of e-commerce (saya lebih percaya kolaborasi online & offline) tapi saya percaya dg the power of social media, bagaimana FB-IG-Whatsapp sangat merubah perilaku kita. Saat ini potensi tsb sudah ditangkap oleh salah satu perusahaan digital besar di dunia, dan semoga kita tidak tertinggal dlm pengembangan pasar di masa selanjutnya. Mudah2an pd generasi kita, dengan besarnya sumber daya alam & meningkatnya kualitas SDM di Indonesia, inovasi2 baru akan semakin banyak bermunculan sehingga bisa memperkuat negara kita tidak hanya sbg negara dg konsumen terbesar di dunia, tp juga negara dg inovator & product owner terbesar di dunia.

Thursday, 21 September 2017

#CareerCoach: Salah Jurusan Kuliah, Lalu?

Salah jurusan kuliah adalah penyakit saya di masa muda. Kalau Anda memiliki pengalaman yang sama, atau saat ini merasa sedang berada di keadaan salah jurusan, saya berharap cerita saya bisa menjadi gambaran: ternyata salah jurusan tidak akan mempengaruhi masa depan kita seterusnya, asaaal kita bisa memahami apa keinginan kita di masa mendatang

Kenapa sih bisa salah jurusan?

Saya adalah orang dengan banyak cita-cita. Sejak kecil, saya suka menonton pertandingan badminton, saat itu saya bercita-cita ingin menjadi atlet seperti Susi Susanti. Namun saat TK, saya mengenal profesi pramugari, dan sejak itu saya menempatkan pramugari sebagai dream job saya. Sayangnya, saat saya duduk di bangku SMA, saya sadar bahwa saya tidak bisa menjadi pramugari karena banyak sekali syarat fisik yang tidak bisa terpenuhi. So, bye-bye dream job! Saya juga bercita-cita jadi penulis, punya salon, punya restoran, punya butik, punya hotel, jadi bupati, jadi menteri, huff banyak deh! Tapi nggak benar-benar ada yang diseriusin.

Saking banyaknya cita-cita yang saya miliki, saya jadi nggak fokus. Menurut saya, tahu apa yang kita mau sedari dini itu penting. Minat & bakat yang kita miliki pun, harus kita pahami betul. Sayangnya dalam sistem pendidikan yang saya dapat it didn't work that way. Menurut saya nih ya, sejak kecil kita selalu didoktrin untuk menggunakan otak kiri dan mengasahnya setiap saat. Sementara otak kanan lebih terabaikan. Sejak kecil saya suka menulis, saya suka gambar (walaupun tidak pernah bisa menggambar dengan baik), suka dengan kerajinan tapi tidak diasah secara optimal, dan suka olahraga. Sementara di masa-masa SMA saya tidak punya role model yang tepat, menurut analisa saya, itu juga menjadi kekurangan diri saya di masa lalu. Karena kurang referensi role model, sehingga saya tidak tahu apa yang ingin saya capai di masa mendatang. Well, saat itu saya suka dengan Fira Basuki, namun saya merasa jauuuh banget buat jadi seseorang seperti mbak Fira; penulis sekaligus editor in chief. Jadi saya mengubur dalam-dalam keinginan saya untuk menjadi seperti beliau. Tapi siapa yang tahun 10 tahun dari masa itu, akhirnya saya bisa jadi Editor in Chief untuk eMagazine kantor saya! Masa depan memang lucu, kuncinya adalah never give up on your dream!

Di sisi lain, keluarga adalah orang terdekat yang membentuk diri kita. Kebetulan Bapak saya adalah guru akuntansi, dan bagi beliau akuntan maupun auditor adalah pekerjaan yang menjanjikan sehingga beliau sangat mendukung saya untuk masuk ke jurusan akuntansi saat kuliah nanti. Saya yang belum tahu apa yang saya inginkan, mengiyakan saja. Saat saya pindah sekolah, dari SMA 1 Pati ke SMA 1 Rembang, barulah saya bertemu dengan teman-teman yang memiliki minat di bidang seni, seperti seni arsitektur dan desain komunikasi visual. Sejak bertemu mereka, entah kenapa saya merasa bahwa otak kanan saya jarang sekali digunakan selama ini, sehingga akhirnya saya kembali mencari tahu apa yang benar-benar saya suka dan muncullah jawaban: saya suka dunia komunikasi. Namun saat itu saya belum tahu pasti komunikasi seperti apa yang saya sukai; jurnalistik, broadcasting, periklanan atau public relation. Kenapa saya tidak tahu hal-hal tersebut? Kembali lagi ke cerita di atas: Kurangnya referensi! Saya memang suka membaca buku, namun buku yang saya temukan di perpustakaan maupun di rental buku lebih banyak berisi novel (fiksi & non fiksi), ilmu agama, budidaya pertanian dan majalah remaja. Saya tidak pernah tahu apa itu pekerjaan jurnalis, creative, art director, copywriter maupun PR. Mungkin jika saya sudah paham tentang pekerjaan-pekerjaan tersebut saat SMA, saya akan lebih menekuni bidang tersebut dan mulai fokus dengan minat saya.

Akuntansi Undip 2006
Saat UMPTN, saya mengisi Akuntansi & Komunikasi sebagai jurusan yang saya pilih. Mungkin doa orang tua saya lebih mujarab dibanding doa saya sendiri, sehingga diterimalah saya di jurusan akuntansi. Meeen, asliii, saya sadar bahwa saya salah masuk jurusan saat menemukan teman-teman yang asyik menghitung angka-angka sementara saya lebih suka menulis artikel majalah, bekerja sampingan sebagai SPG atau menjadi MC dadakan untuk acara kampus. Saat saya kuliah, saya akhirnya menemukan passion saya: semua hal yang terkait dengan pekerjaan kreatif dan komunikatif. Tapi karena orang tua saya sudah membiayai saya kuliah sampai sejauh ini dan akan sayang jika saya menyerah di tengah jalan, saya pun menjalani kuliah sebaik mungkin dan mengisi waktu luang dengan hal yang terkait dengan passion saya.

Efek keseringan baca blog Diana Rika Sari
Saya bekerja sampingan sebagai SPG, dancer dan model. Not for the sake of money, but experience and networking. Karena pekerjaan inilah saya akhirnya dipercaya sebuah local production house untuk menjadi presenter dalam acara liputan Jateng Fair. Saat magang, instead of magang di Kantor Akuntan Publik, saya memilih magang di Olga! majalah remaja milik Suara Merdeka Group sebagai Fashion Journalist. Saya yang memang suka mix & match baju karena keracunan blognya Diana Rika Sari dan Lookbook.nu merasa sangat bahagia saat akhirnya bisa ikutan photoshoot secara langsung walaupun masih sebatas anak magang. Tapi pengalaman tersebut tidak akan pernah saya lupakan. Di luar kampus juga saya aktif bersama beberapa teman membuat majalah indie tentang perkembangan musik di Semarang, sehingga akhirnya kami gigs-hoping ke berbagai gigs di Semarang & Jogja, serta berencana membuat Event Organizer yang batal dilakukan karena creator majalah ini keburu balik ke Bali. Dunia kampus saya terasa sangat berwarna, karena selain menjalankan tugas saya sebagai mahasiswa akuntansi, saya juga aktif mengembangkan passion saya. Walaupun menyita energi, namun saya yakin, suatu saat hal ini pasti berguna.

Shooting Liputan Jateng Fair 2010
Salah jurusan juga memotivasi saya untuk segera menyelesaikan kuliah, nah hal positif seperti ini yang seharusnya dilakukan oleh para mahasiswa yang salah jurusan. Instead of males-malesan dan akhirnya lulus lama banget, ada baiknya para mahasiswa ini harus termotivasi untuk cepat lulus supaya keluar dari segala macam "siksaan salah jurusan" ini.

Jadi bagi Anda yang saat ini merasa salah jurusan, bring it on! Tantangannya adalah bagaimana bisa membuat dunia kampus Anda menyenangkan, dan waktu luang Anda berguna untuk menyerap banyak ilmu dari sekitar yang dapat meningkatkan keahlian di bidang yang Anda sukai. So, be creative! Get out, see the world, get a life and make a lot of connection!

How To Find A Suitable Job?

Setelah lulus kuliah, sesungguhnya saya nggak tahu mau jadi apa. Saya coba semua kemungkinan, tapi yang dekat dengan minat saya dulu; saya apply untuk jadi Reporter TV One dan gagal, kalau ini bukannya saya kurang cakep ya tapi karena saya apply untuk posisi reporter berita tapi saya apalnya bukan the latest news but the latest gossip. So, minat saja tidak cukup, Anda juga perlu meningkatkan pengetahuan Anda terutama yang dekat dengan pekerjaan yang Anda inginkan. Saya juga pernah apply menjadi Creative Trans TV, but then again, saya gagal di interview karena saya tidak tahu bagaimana pekerjaan Creative itu. Jadi bagi Anda yang sedang mencari pekerjaan, ada baiknya Anda cari tahu sedikit saja tentang pekerjaan tersebut. Saya juga pernah apply ke majalah Cosmopolitan sebagai Fashion Journalist, tapi gagal juga karena persiapan yang kurang matang; tidak membawa portofolio dan saat saya datang untuk interview, penampilan saya kayak mbak-mbak yang mau kerja di bank. Pengalaman ini membuat saya percaya dengan Dress to Impress, yang akan saya bahas lebih lanjut di postingan berikutnya.

Pekerjaan Pertama Sebagai Brand Executive Soyjoy
Setelah 3 bulan mencari pekerjaan, akhirnya saya mendapatkan pekerjaan pertama di Soyjoy sebagai Brand Executive yang memiliki job description menjadi pelaksana Brand Activation. Saya belajar banyak hal disana; managing event, dealing with Key Opinion Leader atau Influencer, dan pertama kalinya berkenalan dengan Digital Marketing. Dari pekerjaan saya yang pertama ini, saya tahu apa yang saya inginkan dalam karir: menjadi Marketing Manager dalam 5 tahun ke depan. Well, saya tipe orang yang harus punya life goal sebagai pedoman hidup, jadi penting sekali untuk punya hal yang ingin dicapai, sehingga kita tahu apa yang harus kita lakukan untuk mencapai hal tersebut.

Seiring dengan perubahan kondisi dan peningkatan karir saya, saya sadar bahwa otak kanan saya selama ini tidak dirangsang secara optimal. Andai dulu saya sudah tahu ingin jadi apa saat saya besar nanti, mungkin saya akan lebih banyak belajar tentang fotografi, mix & match baju, atau manajemen brand. Tapi bagi saya, tidak ada kata terlambat. Kini saat makin banyak referensi dan opportunity yang saya miliki, saya harus lebih cepat menyerap semuanya sehingga saya tidak akan kehilangan kesempatan untuk mengembangkan diri. Selain itu, saya juga ingin berkontribusi kepada generasi muda dengan membagikan ilmu serta pengalaman yang saya miliki supaya mereka paham dengan diri mereka sendiri dan pada akhirnya dapat berkontribusi kepada komunitas terdekatnya. Terima kasih kepada Kelas Inspirasi, semoga nanti anak-anak Indonesia di pelosok tidak hanya tahu profesi Dokter, Polisi dan Guru tapi juga profesi kreatif. Namun bagi saya, Kelas Inspirasi ini juga penting untuk siswa SMA, karena di level pendidikan inilah dimana para remaja menjadi galau mau jadi apa kelak, sehingga mereka harus lebih diarahkan.

Ingat, saat Anda salah jurusan, jangan khawatir, masih banyak jalan menuju Roma! Find what your true passion is, back on the track and ride even faster! Thus, you will find your key of a happier life!

Xoxo,

Sunday, 17 September 2017

#AcneDiary: My Acne Series Product Review

Melanjutkan postingan saya tentang pengobatan jerawat yang saya coba, setelah mendapatkan pencerahan dari Bali trip saya yang terakhir, akhirnya saya ke apotek cari Mediklin. Harganya sekitar Rp 50,000-an. Selain Mediklin, saya juga berbelanja lemon dan madu yang saya gunakan sebagai masker wajah.

Mediklin sih highly recommended ya, tapi bagi saya, obat ini perih bangeeet. Apalagi dikombinasikan dengan masker lemon, my face feels like burned. So I stop. Tapi belum ada sebulan penggunaan, perubahan pada jerawat terasa, jerawat jadi mengering. But then again, saya nggak sanggup, jadi saya stop.

Long story short, atas rekomendasi dan nyoba-nyobain produk teman-teman dekat saya, akhirnya saya memakai beberapa produk ini; Oxy 10, Hatomugi, Oxy Cover dan Hadalabo Anti Aging. Berikut review saya mengenai produk tersebut.



OXY 10

I may say, Oxy 10 is a miracle. Cliche? I think not. Oxy 10 adalah produk untuk mengobati jerawat dengan kandungan 10% Benzoyl Peroxide, zat yang mampu melawan bakteri penyebab jerawat. Cara pemakaiannya adalah dengan mengoleskan krim tersebut pada jerawat dan voila, dalam 1-3 hari jerawat akan mengering. Pada kasus saya, karena yang jerawatan hampir semuka, makanya saya ngolesinnya kayak ngolesin krim malam. Kulit kering adalah salah satu efek yang ditimbulkan oleh Oxy 10. Selain kering, kulit saya kehilangan kelenturannya sehingga muncul kerutan. Akhirnya saya kombinasikan dengan produk kedua: Hatomugi.

Anyway, Oxy 10 ini tidak dijual di Indonesia, hanya di Singapore. Tapi jangan sedih, dengan kemajuan tekhnologi saat ini, Anda dapat dengan mudah membelinya di Tokopedia maupun Online Shop di Instagram. Harga 25 gr Oxy 10 sekitar SGD 9 di Indonesia ada yang menjual Rp 75,000 - Rp 125,000. Ada juga kemasan yang lebih kecil 10 gr dengan harga sekitar SGD 4,5 dan dijual sekitar Rp 45,000 - Rp 55,000.

Oh ya, selain Oxy 10, ada juga Oxy 5. Bedanya terletak pada persentase kandungan Benzoyl. Bagi kamu yang jerawatnya tidak terlalu parah, kamu bisa mencoba Oxy 5 terlebih dulu. Kalau Oxy 5 tidak terlalu memberikan efek yang nyata, kamu bisa beralih ke Oxy 10. Karena kondisi kulit dan jerawat saya yang cukup parah, saya langsung memutuskan untuk menggunakan Oxy 10. Awal pemakaian agak perih tapi menurut saya tidak seperih Mediklin. Sejak pakai Oxy 10, saya tidak lagi menggunakan masker lemon, karena jerawat cepet banget kempesnya. Kalau kamu masih ragu dengan Oxy 10, kamu bisa baca review dari pengguna lainnya di Female Daily.

Jerawat saya memang cepat kering dan hilang, namun bukan berarti tidak ada lagi jerawat ya. Jerawat bulanan yang disebabkan karena haid tetap datang, tapi jerawat lainnya tidak lagi ada. Jadi saya cukup merekomendasikan produk ini bagi kamu yang saat ini sedang mencari obat jerawat yang aman dan bekerja dengan cepat.

Hatomugi

Atas rekomendasi teman, saya membeli Hatomugi untuk mengatasi kulit kering saya yang disebabkan karena pemakaian Oxy 10. Hatomugi bisa digunakan sebagai toner dan masker. Jadi saya membersihkan muka saya dengan produk ini, lalu cuci muka. Setelah itu saya menotolkan Hatomugi pada kapas dan mengompres muka saya dengan kapas-kapas tersebut. Dalam 2-3 minggu, kulit saya berangsur-angsur membaik dan kembali halus.

Teman saya mengatakan, Hatomugi ini adalah FTE SK II ala-ala. Kenapa menyebutnya seperti itu? Karena efek yang ditimbulkan hampir sama tapi harganya murah banget. Untuk produk sebesar itu harganya hanya Rp 90,000-an. Produk kecantikan Jepang ini bisa Anda dapatkan di Watson atau Guardian. Wajib banget dicoba!

Oxy Cover

Oxy Cover ini sama halnya dengan Oxy 10, mengandung benzoyl untuk mengatasi masalah jerawat. Bedanya, Oxy Cover ini berwarna coklat, jadi Anda bisa mengaplikasikannya untuk menutupi jerawat saat akan pergi ke kantor atau acara lainnya. Selain bisa mengobati jerawat, Oxy Cover juga berfungsi sebagai concealer. Smart product!

Oxy Cover juga tidak dijual di Indonesia, tapi kamu bisa dengan mudahnya membeli produk ini di Tokopedia maupun Online Shop di Instagram. Sizenya hanya ada 1, 25 gr, harganya saya lupa tapi sepertinya 11-12 sama Oxy 10.

Hadalabo

Sebenarnya perkenalan saya dengan Hadalabo berawal dari ketidaksengajaan. Jadi waktu itu adek saya nitip dibeliin starter pack Hadalabo, tapi dia tidak tahu perbedaan ketiga starter pack yang berbeda warna itu. Saya baca satu per satu dan ketemulah dengan Hadalabo merah yang berfungsi sebagai anti aging. Saya tertarik dengan produk ini karena, walaupun kulit saya sudah tidak kering lagi, tapi kerutan di area mata belum menghilang. Saat itu, saya mencoba pelembab Skin Aqua yang sangat direkomendasikan oleh beberapa orang di Female Daily dan juga oleh seorang teman. Tapi mungkin karena kulit saya semacam kulit badak yang tebal banget, jadi Skin Aqua ini kurang maksimal untuk mengatasi masalah kulit yang saya alami.

Starter pack ini terdiri dari 3 produk; facial wash, lotion dan milk. Well, sebenarnya saya kurang paham juga beda fungsi lotion dan milk, tapi saya kombinasikan saja penggunaannya. Saya menggunakan produk ini di malam dan pagi hari. Step yang saya lakukan untuk penggunaan di malam hari adalah sebagai berikut; bersihkan muka dengan toner Hatomugi, lalu cuci muka dengan Hadalabo Facial Wash, lalu kompres muka dengan Hatomugi selama 10-15 menit, terakhir oleskan Lotion kemudian Hadalabo Milk. Untuk penggunaan di pagi hari, stepnya sebagai berikut; cuci muka dengan Hadalabo Facial Wash, lalu bersihkan muka dengan Hatomugi, terakhir aplikasikan Lotion kemudian Milk. Perubahan pada kulit saya terlihat dalam minggu ke-3, kerutan di bagian mata berangsur-angsur menghilang dan kulit kembali kenyal. Starter pack ini murah banget, harganya cuma Rp 35,000 dan bisa Anda beli di Watson, Guardian atau Century.

Lalu bagaimana dengan Oxy 10 dan Oxy Cover? Saya menggunakan Oxy 10 jika ada jerawat yang meradang, ditotol di area yang berjerawat setelah aplikasi Hadalabo Milk. begitupun untuk Oxy Cover, saya totolkan di area bekas jerawat yang ingin saya samarkan setelah penggunaan Hadalabo Milk.

Jerawat berangsur-angsur hilang
Juli 2017 - Lumayan mulus ya
Saya mulai menggunakan kombinasi produk ini pada bulan Januari 2017, dan hasilnya memang tidak instan. Tapi pada bulan Juli 2017, hasilnya bisa Anda lihat pada foto saya berikut ini. Sorry saya tidak bisa memberikan foto saya saat jerawatan dulu, jadi tidak ada perbandingan before & after. Maklum pas jerawat saya banyak banget, jangankan selfie, foto dari jauh saja suka males. Kalaupun foto, editannya yacalam banget deh.

Hikmah dari pengobatan jerawat yang saya lakukan selama hampir 1 tahun ini adalah, sebagai wanita kita harus paham bahwa kulit masing-masing orang berbeda, sehingga membutuhkan perawatan yang berbeda pula. Produk-produk yang saya coba ini bisa jadi berhasil pada kulit saya, tapi belum tentu berhasil pada kulit Anda. Kalau saat ini Anda masih berjuang dalam memerangi jerawat, pesan saya adalah sabar dan jangan menyerah. Keep trying! Semoga review saya ini bermanfaat ya, dan jangan lupa untuk selalu cuci muka secapek apapun Anda, serta tidur di bawah jam 12 malam karena kurang tidur juga bisa memicu timbulnya jerawat.

Love,
M

Thursday, 7 September 2017

Wanita dan Tas



Bekerja di dunia fashion adalah cita-cita saya sejak mengenal majalah Cosmopolitan, which is bukan cita-cita dari kecil, tapi baru saat saya menginjak bangku kuliah. Iya, jaman SMA saya belum dibolehin Ibu saya membaca majalah dewasa seperti Cosmo ini. Ditambah lagi saya suka sekali dengan film The Devil Wears Prada, sehingga bekerja di dunia fashion itu terlihat keren dan menantang.

Karir saya di dunia fashion dimulai saat saya bekerja untuk sebuah surfing brand, lalu beralih ke timepieces brand dan saat ini saya bekerja di local e-commerce yang menjual luxury accessories. Masing-masing brand memiliki market segment yang berbeda. Di company kedua baru saya menemukan apa yang saya cari: fashion bagi wanita dewasa!

Setelah beberapa tahun bekerja di industri ini, apalagi saat saya bekerja untuk brand aksesoris, saya menemukan fakta bahwa fashion bagi wanita bukan hanya sebatas mempercantik diri dengan baju-baju bagus dan sepatu cantik, lebih dari itu, fashion bagi wanita adalah suatu pernyataan; pernyataan siapa dirinya, pernyataan bagaimana seleranya dan pernyataan dimana kelasnya.

Don't judge a book by its cover, adalah hal yang sering kita dengar, bahwa kita disarankan untuk tidak melihat penampilan luar seorang manusia. Mungkin hal ini benar, jangan menghakimi seseorang hanya dari baju apa yang ia kenakan ke kantor, sepatu apa yang dia pilih saat olahraga atau tas apa yang dia bawa saat meeting. Tapi ironisnya, hampir sebagian besar wanita, akan selalu memberikan penilaian singkat dengan hanya melihat dari penampilan luar wanita lainnya.

Terlepas dari social judgement, saya ingin membahas sisi internal wanita saat memutuskan membeli fashion item yang ia inginkan. Dulu saya pikir baju yang bagus adalah hal yang wajib wanita miliki, jadi sah-sah saja bagi seorang wanita membeli baju sebulan sekali. Tapi ternyata baju bukanlah satu-satunya hal yang penting, justru hal-hal kecil seperti aksesoris adalah hal-hal yang wajib dimiliki seorang wanita untuk menunjukkan siapa dia yang sebenarnya, terutama: TAS!


Demam Hermes di kalangan sosialita adalah satu dari sedikit isu mengenai wanita dan tas. Apakah benar wanita membeli ini hanya demi prestige semata? Jika Anda merasa para wanita rela menghabiskan ratusan juta hingga milyaran uang hanya demi gengsi, Anda salah dalam menilai para wanita ini. Sebuah studi yang dilakukan Banananina dan Fara, seorang Sarjana dari Curtain University menemukan bahwa alasan utama membeli tas mewah adalah untuk reward atas pencapaiannya dalam hidup. Para responden menilai mereka layak mendapatkan tas mewah tersebut karena telah bekerja keras untuk dapat membelinya. Jadi, lebih dari sekedar gengsi, membeli tas mewah bagi seorang wanita adalah suatu pencapaian. Mereka akan merasa bahagia sekaligus bangga pada dirinya sendiri saat menenteng tas itu ke kantor, ke mall atau saat berkumpul dengan teman-temannya.

Tas bukan hanya sekedar fashion accessories. Hanya dengan 1 tas, Anda sudah dapat menempatkan diri Anda pada kelas tertentu. Apakah Anda kelas newbie in luxury bag? Apakah Anda baru memasuki periode mapan? Atau Anda memang penggila tas? Semua bisa terjawab dari tas yang Anda tenteng.

Tak dapat dipungkiri, dengan makin banyaknya kelas menengah di Indonesia, permintaan akan tas mewah juga semakin meningkat. Bahasan saya mengenai wanita dan tas akan lebih banyak lagi di artikel selanjutnya. Jadi jika Anda adalah pecinta tas, jangan lupa untuk meninggalkan komentar Anda mengenai artikel-artikel saya.

xoxo,
M

Sunday, 9 July 2017

#AcneDiary: Spiritual Journey to Bali

Bali adalah salah satu destinasi yang selalu ada di daftar teratas rencana liburan saya. Bagi saya, Bali adalah tempat dimana saya bisa rileks dan mengobati segala kepenatan yang saya alami. Perjalanan ke Bali saya kali ini benar-benar mengubah hidup saya. Awalnya seperti biasa, saya ke Bali hanya ingin rehat sejenak menikmati hidup, setelah 1 tahun kemarin kerja keras pergi pagi pulang pagi.

Sore pertama saya di Bali, saya ke Uluwatu untuk bermain di pantai dan menikmati sunset di Single Fin. Begitu saya sampai di Single Fin, saya tertarik untuk membeli smoothie bowl, makanan yang belum pernah saya coba sebelumnya. Karena rasanya enak, segar dan menyehatkan, paginya saat ke Ubud, saya juga memesan smoothie bowl saat berkunjung ke Seniman Cafe. Pun di hari berikutnya, saat saya keliling Seminyak, saya mencari referensi tempat makan yang menjual smoothie bowl dan akhirnya membeli makanan sehat tersebut di Cafe Organik.

Smoothie Bowl ini membuat saya tertarik dengan konsep Clean Eating, yaitu pola makan yang memperbanyak konsumsi whole food, makanan yang paling alami atau makanan yang tidak banyak diproses. Selain itu, kehidupan di Bali yang sangat laid back membuat saya berpikir untuk menjalani hidup lebih santai dan tidak menjadi terlalu tertekan dengan beban pekerjaan. Saya juga berencana untuk memulai yoga.

Setelah mendapatkan inspirasi tentang pola hidup ideal yang ingin saya jalankan, saya menghubungi teman saya yang sudah terlebih dulu menjalankan pola sehat tersebut. Selain memberikan saran tentang clean eating, dia juga memberikan saran untuk mengatasi masalah jerawat saya. Dengan menggabungkan saran dari teman dan beberapa artikel yang saya baca, akhirnya saya menjalankan clean eating dan pola hidup sehat dengan detail berikut:

Mengurangi Konsumsi Susu

Ada beberapa orang yang berpotensi alergi susu sapi, ada juga tipe orang yang berpotensi memiliki jerawat karena mengonsumsi susu sapi. Ada baiknya kamu melakukan tes alergi makanan di lab terdekat sehingga tahu makanan apa saja yang perlu dihindari untuk kesehatan kulit kamu.
Saya tidak sampai melakukan tes ini, tapi dengan sendirinya meninggalkan semua susu yang sering saya konsumsi baik itu susu kotak Ultra, susu bubuk milo maupun hilo. Alasannya simple, karena hal ini memberikan pengaruh yang signifikan ke teman saya, barangkali hal serupa bisa terjadi di saya. Cukup berat sih, mengingat saya rutin mengonsumsi minuman tersebut. Satu-satunya susu yang masih saya konsumsi adalah susu sapi segar, tapi ini pun sesekali saja saat saya mengunjungi kedai/restoran yang menyediakan susu segar.

Saya tidak tahu ini menjadi salah satu faktor yang membuat saya bisa mengurangi jerawat di muka saya atau tidak, yang jelas sejak berhenti mengonsumsi susu (dan menerapkan pola hidup sehat lainnya) jerawat saya berkurang. Walaupun saya tidak mengonsumsi susu, tapi saya tetap mengonsumsi dairy product lain seperti yogurt. Untuk coklat, karena saya bukan penggemar berat makanan ini, jadi konsumsi saya terhadap coklat juga tidak terlalu tinggi, hanya sesekali saja.

Opsi minuman saya alihkan untuk memperbanyak minum air putih supaya kulit terhidrasi dengan baik dan jus buah segar. Sementara untuk konsumsi teh/kopi, saya batasi hanya 1 gelas per hari.

Menjalankan Clean Eating Seoptimal Mungkin

Saya meningkatkan konsumsi buah dengan membuat smoothie bowl sendiri setiap pagi. Saya lihat resep-resep dari youtube. Kombinasi buahnya saya buat sesuai buah favorit saya seperti buah naga merah & strawberry atau pisang & mangga, ditambah bahan lain seperti kiwi, blackberry, blueberry, coconut water, yogurt dan granola. Granola memegang pernan penting dalam hidup saya saat saya menjalankan clean eating. Kalau lagi bosen mengonsumsi smoothie bowl, biasanya saya membuat granola plate yang terdiri dari granola, plain yogurt ditambah madu dan potongan buah.

Selain kedua jenis makanan tersebut, saya juga mengonsumsi sayur rebus seperti brokoli dan bayam, dan sesekali mengganti nasi saya dengan jagung rebus atau ubi rebus. Sebisa mungkin saya meninggalkan gorengan, dan ini adalah momen yang paling berat. Bukan karena saya terlalu cinta dengan gorengan, tapi karena sepanjang jalanan Jakarta, godaan gorengan terasa nyata. Setiap 100 meter pasti ada abang gorengan yang gerobaknya terlihat sangat menggoda. Saya ganti snack saya dengan biskuit gandum (saya paling suka dengan Belvita) atau buah (kalau lagi keabisan buah dari supermarket, saya suka beli di abang rujak buah). 2 minggu kemudian kecintaan saya terhadap gorengan perlahan-lahan hilang. Pernah saya coba makan 1 balabala, kemudian tenggorokan saya terasa tidak enak. Yakin deh, kalau sudah menjalankan clean eating, kamu akan merasa sedikit geli dan kehilangan nafsu saat melihat makanan yang tidak sehat.
Selama clean eating saya tetap makan nasi, karena tujuan saya clean eating adalah untuk menjaga pola makan saya supaya lebih sehat, bukan untuk menurunkan berat badan. Kalau berat badan saya turun, saya anggap saja sebagai bonus, apalagi kalau sampe jerawat berkurang dan hilang. Oh ya, teman saya juga menyarankan mengonsumsi 1 sendok makan air perasan lemon setiap pagi saat bangun tidur, katanya bagus untuk pencernaan. Kalau terlalu asem, kamu bisa mencampurnya dengan madu dengan perbandingan 1:1.

Olahraga dan Tidur Cukup

Keringat adalah salah satu cara mengeluarkan racun-racun dalam tubuh. Salah satu cara supaya kamu mengeluarkan banyak keringat adalah dengan berolahraga. Saya suka jogging seminggu sekali, atau berenang. Sesekali yoga supaya tidak cuma raga saja yang sehat, tapi juga pikiran. Saya pernah mencoba muay thai, tapi ternyata olahraga tersebut tidak cocok untuk saya yang anaknya lenje ini. Lakukan olahraga apapun yang kamu suka, setidaknya seminggu 1x supaya badan lebih bugar.
Yang tidak kalah penting adalah tidur cukup. Tidak hanya kuantitas jam tidur yang lama, tapi juga kualitas tidur yang baik. Biasakan tidur di bawah jam 12 supaya metabolisme kamu berjalan dengan baik dan organ tubuh dapat beristirahat. Pada kasus saya, tidur adalah salah satu kunci mengurangi jerawat. Karena saat saya tidur di atas jam 1 malam, paginya saya sudah mendapati jerawat di muka saya. Sebisa mungkin saya tidur jam 10 supaya tidak timbul jerawat keesokan harinya.

Skin Care Alami

Dari beberapa review dan saran teman, saya mencoba untuk menggunakan skin care alami untuk membuat face mask. Secara regular saya menggunakan masker putih telur, masker lemon, masker lemon+madu maupun masker gula+madu.

Masker lemon rasanya sih luar biasa banget yaa, tapi memang cukup membantu dalam mengeringkan jerawat yang meradang. Kamu bisa coba menggunakan air perasan lemon lalu dioleskan merata pada seluruh wajah, atau dicampur dengan madu lebih dulu supaya sensasi pedihnya lebih ringan. Kalau jerawat kamu sudah tidak meradang lagi, kamu bisa menggunakan masker putih telur untuk membantu menghilangkan noda bekas jerawat. Masker putih telur ini juga membuat kulit jadi lebih halus.

Jangan Lupa Bahagia

Nah ini hal sepele tapi kadang kita lupakan. Bahagia! Artinya, jauhkan diri kamu dari stress. Beban pekerjaan, cicilan yang tidak kunjung lunas hingga permasalahan dengan klien, sering menjadi hal yang membuat kita jadi pusing hingga aura kita jadi lebih negatif. Seberat apapun permasalahan yang kamu hadapi, ada baiknya kamu kesampingkan semuanya saat pulang ke rumah. Jadikan waktu di rumah sebagai quality time baik dengan diri sendiri atau bersama orang-orang terdekat.

Sebagai pengingat, stress merupakan penyebab kematian tertinggi loh. Karena berawal dari stress, kita dapat terkena berbagai penyakit berbahaya seperti tekanan darah tinggi hingga stroke. So, jangan lupa bahagia ya!

Itulah beberapa hal yang saya jalankan sebagai bagian dari usaha untuk hidup lebih sehat dengan harapan masalah kulit saya, yaitu jerawat, dapat berkurang dan akhirnya hilang. Selain memberikan inspirasi untuk hidup lebih sehat, Bali juga memberikan inspirasi bagi saya untuk mencoba produk jerawat. Ceritanya lucu.

Sore itu, saya sedang menunggu smoothie bowl saya diantar oleh waitress di Cafe Organik. Setelah meletakkan order saya di meja, waitress ini dengan ramahnya menyapa saya dan menanyakan masalah jerawat yang saya alami. Setelah beberapa saat berbincang, waitress ini menyarankan saya untuk mencoba Mediklin, karena krim jerawat tersebut sangat efektif mengatasi masalah jerawatnya.

Demikianlah cerita tentang Spiritual Journey saya ke Bali yang memberikan saya banyak inspirasi untuk memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Cerita tentang krim jerawat yang saya pakai akan saya bagikan di postingan selanjutnya ya.

Love,
M

Wednesday, 7 June 2017

Review Acne Treatment

Jerawat adalah masalah yang sangat menjengkelkan. Selain membuat penampilan kurang maksimal, jerawat seringkali membuat kulit menjadi rusak. Selama beberapa tahun, saya mempunyai masalah yang cukup kompleks dengan jerawat. Muka isinya jerawat semua, sehingga kepercayaan diri saya turun drastis.
Awalnya saya coba cari akar permasalahan yang menyebabkan saya memiliki banyak jerawat. Saya berkonsultasi dengan beberapa dokter di klinik kecantikan dan jawaban mereka variatif, mulai dari hormon, stres, kurang tidur, atau makanan saya kurang sehat.
Saat saya memiliki banyak sekali jerawat, saya berusaha semaksimal mungkin untuk menyembuhkannya dengan melakukan treatment di beberapa klinik kecantikan. Sudah banyak banget uang yang saya keluarkan untuk menyembuhkan jerawat yang menjengkelkan ini, tapi tidak kunjung membaik. Paling kesel kalau ada orang yang nanya, "Ih cakep-cakep kok jerawatan sih? Ke dokter gih!"
Mereka tidak tahu saja, betapa saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menghilangkan jerawat-jerawat ini. Kalau kamu mengalami masalah yang sama, dan saat ini bingung mau mencoba klinik kecantikan yang mana, saya akan berbagi mengenai klinik kecantikan yang sudah pernah saya coba. Semoga bisa membantu kamu untuk mendapatkan pengobatan yang tepat.

ERHA

erha
Source: whatsnewjakarta.com
Klinik kecantikan yang satu ini tidak diragukan lagi kemampuannya. Saya pakai erha dari 2012 sampai 2015. Erha cukup membantu dalam mengurangi jerawat saya. Karena dalam kurun waktu tersebut saya pindah-pindah tempat tinggal, jadi saya mendatangi beberapa klinik Erha diantaranya; Erha Puri (saat ini sudah ganti nama klinik), Erha Pontianak, Erha Senayan City dan terakhir Erha Kemanggisan.
Dokter yang menangani pun berbeda-beda, dan tiap dokter punya opini serta cara pengobatan masing-masing walaupun memang krim yang digunakan sama saja. Treatment yang ditawarkan kepada saya pun bervariasi, tapi yang saya coba adalah chemical peeling dan suntik jerawat. Chemical peelingnya cepat sekali mengeringkan jerawat, sementara saya ambil suntik jerawat kalau jerawat saya banyak dan gede-gede sementara besoknya ada date atau meeting. Suntik jerawat itu sakit, tapi bikin kecanduan. Kalau kamu bernyali, silahkan dicoba.
Biasanya saat melakukan treatment di Erha, dokter akan kasih krim pagi dan krim malam, sayangnya jumlahnya bukan cuma 2 pcs, tapi bisa jadi 6 pcs. 3 dipakai di pagi hari dan 3 dipakai di sore hari. Karena saya anaknya bukan tipe rajin mengoles segala macam krim tersebut, jadi selama kurun waktu 3 tahun itu, saya suka putus-nyambung dengan Erha, ini yang kadang menyebabkan perawatannya tidak maksimal. Saat jerawatnya sudah mulai hilang, saya jumawa, tidak melanjutkan pemakaian krim sehingga bulan berikutnya banyak lagi jerawat yang muncul. Erha juga menawarkan obat minum, tapi saya ada kejadian buruk terkait obat minum tersebut. Mungkin malam itu kondisi tubuh saya kurang fit, sehingga seusai mengonsumsi 2 obat minum dari Erha, jantung saya berdegup kencang, padahal sebelumnya baik-baik saja. Hal tersebut yang membuat saya tidak mau lagi mengonsumsi obat oral.
Pros dan cons Erha dari saya adl sebagai berikut:
Pros
1. Cocok di kulit saya, segala macem obat yang dia kasih untuk muka saya sangat efektif sehingga keadaan kulit saya membaik
2. Treatmentnya tidak ribet, seringnya disuruh chemical peeling dan tidak makan waktu lama, jadi bisa diambil pas jam makan siang
3. Suka sekali dengan suntik jerawat yang membuat jerawat yang sedang meradang kempes dalam waktu 2-3 hari
4. Dokter dan stafnya ramah, cabang banyak, jadi memudahkan pasien untuk berkonsultasi
Cons
1. Jujur, harga perawatan di Erha, kalau jerawat kamu lagi aktif-aktifnya, bisa dibilang mahal. Dalam kunjungan terakhir saya ke Erha Kemanggisan tahun 2015, saya hampir menghabiskan 2 juta untuk konsultasi, krim, obat dan tindakan. Udah gitu, 2 minggu kemudian saya disuruh balik. Karena biaya perawatan saya sudah over budget, jadi saya tidak kembali lagi. Ya, saya tahu, apa yang saya lakukan salah. Tapi harga inilah yang bikin saya berpaling ke tempat lain. Sebenarnya kalau wajah kita tidak terlalu bermasalah, biaya perawatannya hanya berkisar Rp 600.000 - 800.000
2. Krimnya banyak banget, ribet. Saya adalah tipe orang yang simple, jadi maunya apa-apa praktis. Tapi di Erha, krim pagi yang diberikan kepada saya 2-3 pcs, begitupun krim malam, kebayang nggak setiap jalan ke kantor dan sebelum tidur, saya harus mengoles semua krim-krim tersebut ke muka saya, cukup makan waktu. Jadilah saya putuskan untuk mencari perawatan yang lebih sederhana.

Over all, saya merekomendasikan Erha bagi kamu yang berjerawat. Sebenarnya saya bisa mulus menggunakan Erha, tapi karena budgetnya melebihi budget yang saya miliki, dengan berat hati saya tinggalkan Erha.

NATASHA

natasha
Source: Sindonews.com
Satu kata untuk mewakili pengalaman treatment saya di Natasha: Nightmare. Jadi ceritanya setelah nggak sanggup lagi membiayai perawatan di Erha, saya mencari klinik kecantikan yang lebih murah, dan Natasha adalah jawabannya. Apalagi saya melihat beberapa teman hasilnya bagus dengan perawatan disini. Tapi balik lagi, pengobatan jerawat itu sangat personal, dalam artian yang bagus di orang lain belum tentu bagus bagi kita. Nah kayaknya saya nggak terlalu cocok nih menggunakan Natasha. Saya konsultasi ke Natasha Taman Anggrek dan Natasha Senayan City, semuanya menyarankan untuk facial. Itu adalah kesalahan terbesar dalam hidup saya, facial. Bagi kamu yang sedang berjerawat baik yang radang (ini memang tidak dibolehkan facial) maupun yang sudah mulai mengering, saya sarankan jangan difacial mukanyaaa. Hasilnya muka saya sekarang bopeng-bopeng, persis seperti permukaan bulan.
Krim dari Natasha juga kurang maksimal hasilnya di kulit saya, entah karena kulit saya yang sangat bermasalah atau krimnya yang kurang kuat. Padahal sudah dibantu dengan tindakan seperti; facial, photodynamic therapy blue untuk membunuh kuman di kulit dan suntik jerawat. Oh ya disini juga ada suntik jerawat dengan harga yang jauh lebih murah daripada suntik jerawat di Erha, jadi saya yang ketagihan suntik jerawat, nyobain juga suntik jerawat disini. Pernah waktu itu saya lagi ke Bali, jerawat meradang padahal lagi mau ngedate, akhirnya saya ke Natasha di daerah Kuta dan dokternya sangat membantu untuk melakukan tindakan tersebut. Sayang, 3 hari kemudian, jerawat saya yang tadinya kempes, balik lagi. Sejak itulah saya memutuskan menyudahi perawatan disini, karena sudah 6 bulan dan belum menunjukkan progress.
Berikut Pros dan Cons dari perawatan saya di Natasha:
Pros
1. Harganya terjangkau, baik krim maupun treatment semuanya murah, sehingga tiap datang kesini tidak kuatir dompet menipis
2. Krimnya nggak terlalu ribet, jadi saya yang praktis ini merasa terakomodir kebutuhannya
3. Dokter dan staffnya ramah, cabang banyak, sehingga mudah untuk melakukan perawatan bahkan di kota kecil seperti Kudus, Jawa Tengah
Cons
1. FACIAL! Dont. Just dont. Jadi Natasha percaya, facial membantu membersihkan jerawat dan komedo di wajah. Ada benernya sih, tapi efek sampingnya facial itu bikin permukaan kulit yang tadinya berjerawat menjadi berlubang. Lubangnya sangat dalam, sehingga butuh waktu lama untuk mengembalikan kemulusan wajah. Jadi saya tidak menyarankan untuk mengambil perawatan ini. Tapi semua itu kembali lagi ke kepercayaan masing-masing orang, kalau kamu merasa hal tersebut baik bagi kulit kamu, then go ahead.
2. Saat weekend, beberapa klinik ramai sekali, jadi perlu banget bikin appointment. Ini cukup bikin males sih, karena antriannya panjang dan kadang molor dari jadwal perawatan kita.

Sebenernya cons saya cuma facial aja sih. Sisanya oke. Tapi karena memang hasilnya kurang bagus di saya, jadi saya sudahi perawatan di Natasha dan mencari alternatif lainnya.

ZAP

zap-semarang

Zap merupakan klinik kecantikan favorit saya; treatmentnya nggak ribet, harganya terjangkau dan hasilnya memuaskan. Pertama kali ke Zap saya ingin mencoba Photo Facial yaitu serangkaian perawatan mulai dari Laser Toning, Face Rejuvenation dan Oxy Infusion. Tapi karena jerawat saya masih meradang jadi sama dokter yang mendampingi hanya diperbolehkan Face Rejuve. Setelah face rejuve, muka saya terasa segar, kenyal dan segar. Enak banget deh! Karena first impression sama Zap oke banget, jadi saya terusin treatmentnya. Dari yang awalnya 4x sebulan jadi 8x sebulan, hasilnya oke banget! Saya sempat pakai krim Zap, but honestly, krimnya tidak terlalu memberikan pengaruh signifikan ke kulit saya jadi pas krim habis saya tidak memakainya lagi.
Sayangnya saat libur lebaran, saya sempat berhenti treatment, setelah 2 minggu jerawat kembali meradang, sepertinya karena kondisi lingkungan tempat saya mudik agak panas dan banyak debu, jadilah jerawatan lagi. Gara-gara hal tersebut, akhirnya saya tempuh cara paling mainstream seJakarta: KE DOKTER KUN!
Sebelum beralih ke cerita saya tentang dokter Kun, saya lanjut dulu memberikan Pros dan Cons tentang Zap.
Pros
1. Treatmentnya simple, cepat dan terjangkau. Walaupun sepertinya mengalami kenaikan harga tiap tahun, tapi masih lebih murah disbanding klinik kecantikan lainnya.
2. Dokter dan staffnya ramah, cabang mulai banyak. Jadi bias treatment dimana saja, tapi sayang di Bekasi belum ada.
3. Banyak promo. Bisa dibilang Zap salah satu klinik kecantikan yang sering banget kasih hadiah, termasuk jalan-jalan ke luar negeri. Seru ya!
Cons
1. Tahun 2016 dulu sih kalau mau treatment di Kokas maupun Menteng harus bikin appointment karena antriannya kalau weekend rame banget. Sekarang karena sudah banyak cabang, antriannya lumayan berkurang. Zap Lotte Shopping Avenue bias jadi alternatif bagi kamu yang tinggal di Jaksel-Jakpus karena antriannya lebih sedikit disbanding Kokas.
2. Belum ada di Bekasi, karena sekarang domisili saya di Bekasi, so it's really matter.

Kalau dipikir-pikir, cons-nya kurang penting ya, hehe. Sampai sekarang saya masih melakukan perawatan di Zap tapi tidak sesering dulu. Bagi saya, treatment di Zap bener-bener memberikan hasil yang bagus. Kalau kamu ingin hasil yang maksimal, setidaknya seminggu 2x harus kesini ya!

THE MOST ANTICIPATED DERMATOLOGIST IN JAKARTA: dr. KUN!

Source: beautifulmango.com
Siapa siiiih orang Jakarta yang nggak kenal dokter Kun? Dokter kulit satu ini sangat fenomenal. Antrian pasiennya panjang banget, karena ternyata tidak cuma warga Jakarta, tapi juga warga dari kota-kota lain. Waktu itu saya lagi antri barengan sama tante-tante dari Manado. Lokasinya berada di sebrang Universitas Moestopo Senayan, sangat mudah ditemui. tanya sama abang gojek, pasti langsung ketemu.

Langsung ke Pros & Cons ya, karena keahlian dokter ini tidak diragukan lagi.
Pros
1. Perawatannya sangat simple, krim dan obat oral.
2. Hasilnya terasa banget
3. Bisa beli obat pakai Gojek, abang-abang Gojek sudah khatam sama bagaimana cara efektif dan efisien buat ngantri beli obat di klinik dokter Kun
Cons
1. Antriannya yasalam, bikin appointmentnya bias dari jauh-jauh hari banget. Dulu orang dibela-belain antri dari subuh buat dapet nomor antrian konsultasi, sekarang sistemnya Alhamdulillah sudah bias bikin appointment melalui telepon, tapiiiii itupuuuun susah sekali biar keangkat teleponnya. Waktu itu saya hoki karena ada pasien yang cancel, jadi dari waiting list saya langsung bisa dapet jadwal konsultasi.
2. Obat oral dokter Kun sangat berkhasiat, sayangnya saya bukan tipe orang yang suka mengonsumsi obat oral secara regular. Jadi once obat oral abis, saya tidak melanjutkan, padahal yang paling penting menurut orang-orang adalah obat oral ini.

Walaupun saya cuma 1-2 bulan saja menggunakan obat dari dokter Kun, hasilnya terasa sekali. Tapi karena alasan obat minum yang merepotkan itu, saya sudahi perawatan di dokter Kun.

Nah, dari sekian banyak klinik yang saya coba, yang bikin saya balik lagi sampai sekarang adalah Zap. Tapi cerita tentang jerawat saya tidak berhenti sampai di klinik-klinik ini. So, simak terus Acne Diary saya ya. Sekarang kondisi kulit saya perlahan-lahan mulai membaik, rahasianya akan saya sampaikan di posting selanjutnya.

xoxo,
M